Kamis, 18 Juli 2019

FIQIH QURBAN (4+5)

FIKIH QURBAN (Bag. 4)

Referensi : Kitab Fathul Qarib

Hukum Kurban
AWAL DAN AKHIR
وقت الذبح

(و) يدخل (وقت الذبح) للأضحية (من وقت صلاة العيد) أي عيد النحر. وعبارة الروضة وأصلها «يدخل وقت التضحية إذا طلعت الشمس يوم النحر، ومضى قدر ركعتين وخطبتين خفيفتين». انتهى. ويستمر وقت الذبح (إلى غروب الشمس من آخر أيام التشريق)، وهي الثلاثة المتصلة بعاشر ذي الحجة.
Adapun batas waktu penyembelihan kurban:
START :
Waktu penyembelihan adalah Mulai dari waktu sholat idul adha. Dalam kitab ar-raudl dan asalnya disebutkan : Waktu penyembelihan adalah Mulai dari munculnya matahari pada hari raya kurban ditambah waktu (yg cukup) untuk sholat dua rekaat dan dua khutbah ringan
FINISH
Waktu penyembelihan terakhir adalah tenggelamnya matahari (waktu magrib) pada akhir hari tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah).


Keter
angan :
Pada asalnya Rasulullah saw melarang para sahabat untuk menyimpan daging hewan kurban dikarenakan banyak masyarakat miskin dan penduduk Arab badui yang datang ke kota Madinah untuk meminta daging hewan kurban. Maka daging hewan kurban harus dibagi-bagikan kepada mereka dan Orang yang menyembelih hewan kurban boleh ikut menikmatinya hanya selama tiga hari penyembelihan. Rasul saw bersabda:
«ادَّخِرُوا ثَلَاثًا، ثُمَّ تَصَدَّقُوا بِمَا بَقِيَ»
“Simpanlah daging hewan kurban untuk jatah tiga hari, lalu sedekahkanlah sisanya!”
«مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ»
Barangsiapa di antara kalian menyembelih hewan kurban, maka janganlah sampai pada hari ketiga penyembelihan di rumahnya masih tersisa dagingkurban!”
Namun tahun berikutnya, masyarakat hidup berkecukupan dan tidak banyak orang-orang miskin yang datang ke kota Madinah untuk meminta daging hewan kurban, maka Rasulullah saw memperbolehkan para sahabat untuk menyimpan sebagian daging hewan kurban seraya bersabda :
«كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا، فَإِنَّ ذَلِكَ العَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ، فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا»
“Makanlah sebagian dagingnya, berikanlah sebagian dagingnya kepada orang-orang miskin dan simpanlah sebagian dagingnya! Tahun kemarin itu masyarakat lagi mengalami kesusahan, maka aku ingin kalian membantu mereka dengan daging hewan kurban.”[HR. Bukhari]
Dengan demikian tidak ada batas akhir menyimpan daging kurban. Namun para ulama berkata :
إذا أراد الادخار فالمستحب أن يكون من نصيب الأكل لا من نصيب الصدقة والهدية
Jika mau menyimpan (daging kurban), maka sunnahnya (yang disimpan adalah) daging yg menjadi bagian yang dimakan, bukan daging dari bagian shadaqah ataupun hadiah. (Yang hendak diberikan kepada orang lain). 






FIKIH QURBAN (Bag. 5)

Referensi : Kitab Fathul Qarib

Tata Cara Menyembelih
ويستحب عند الذبح خمسة أشياء
5 KESUNNAHAN ketika menyembelih (Qurban)
أحدها (التسمية) فيقول الذابح بسم الله الرحمن الرحيم فلو لم يسم حل المذبوح
(1) Baca Basmalah, dengan mengucapkan "Bismillahirrahmaanirrahiim". NAMUN Jika si peyembelih tidak menyebut Nama Allah (lupa atau disengaja) maka (tetap) Halal (Daging) hewan yang disembelih.
و الثاني (الصلاة على النبي ) ويكره أن يجمع بين اسم الله واسم رسوله
(2): Bersholawat kepada Nabi saw, dan dihukumi MAKRUH menggabungkan Nama Allah dan Nama Rasulullah (misalnya ucapan: "Bismillah wasmi Muhammadin" Dengan Nama Allah dan Nama Muhammad)
و الثالث (استقبال القبلة) بالذبيحة أي يوجه الذابح مذبحها للقبلة ويتوجه هو أيضاً
(3) Menghadap Qiblat dengan Hewan Sembelihanya, artinya si Penyembelih menghadapkan hewan sembelihanya ke Arah Qiblat, sekaligus Si Penyembelih Menghadap kiblat juga.
و الرابع (التكبير) أي قبل التسمية وبعدها ثلاثاً كما قال الماوردي
(4) Bertakbir, yaitu sebelum dan sesudah membaca Basmalah, sebanyak tiga kali takbir sebagaimana pendapat Imam Mawardi
و الخامس (الدعاء بالقبول) فيقول الذابح اللهم هذه منك وإليك فتقبل، أي هذه الأضحية نعمة منك عليّ وتقربت بها إليك فتقبلها مني
(5) "Berdoa agar sembelihanya diterima Allah" Maka Orang yang menyembelih mengucapkan doa : Allahumma Hadzihi Minka Wa Ilaika Fataqabbal" Yaa Allah Hewan Qurban ini adalah dari engkau dan untuk engkau. Maksudnya: Hewan Qurban ini adalah Ni'mat dari –Mu yang diberikan kepadaku dan aku bertaqarrub (mendekatkan diri dengan penghambaan) dengan hewan qurban ini kepadamu, maka terimalah qurban ini dariku.
Jika menyembelih untuk kurban orang lain maka bacaanya :
Allahumma Hadzihi Minka Wa Ilaika Fataqabbal min .... (Sebut nama org yang kurban)


Keterangan :


A. MENYEMBELIH QURBAN (QODLO) DILUAR WAKTU, BOLEHKAH?
Tidak SAH sebagai kurban jika proses menyembelih binanang qurban dengan niatan mengqadla’ qurban dilaksanakan diluar waktu-waktu penyembelihan yang semestinya (diluar tanggal 10 - 13 Dzulhijjah).

(فَمَنْ ذَبَحَ ضَحِيَّتَهُ قَبْلَ دُخُوْلِ وَقْتِهَا) بِأَنْ لَمْ يَمْضِ مِنَ الطَّلُوْعِ أَقَلُّ مَا يُجْزِئُ مِنَ الصَّلاَةِ وَالْخُطْبَةِ (لَمْ تَقَعْ ضَحِيَّةً، وَكَذَا مَنْ ذَبَحَهَا بَعْدَ خُرُوْجِ وَقْتِهَا إِلاَّ إِذَا نَذَرَ ضَحِيَّةً مُعَيَّنَةً)
“Barang siapa menyembelih ternak qurban, sebelum tiba waktunya (yakni saat matahari sudah terbit dan setelah pelaksanaan shalat id (dua rakaat) beserta khotbahnya), maka tidak sah qurbannya. Demikian pula tidak sah seseorang yang menyembelih qurban setelah keluar waktunya (10 Dzul Hijjah dan tiga hari tasyriq), kecuali karena nadzar qurban mu’ayyan” (Kurban dengan binatang yg telah ditentukan).
[Ats-tsimarul Yani’ah]


B. BINATANG YANG DISEMBELIH DENGAN MESIN POTONG HUKUMNYA HALAL BILA MEMENUHI KETENTUAN :
Penyembelihnya seorang muslim dan mesin potongnya memenuhi ketentuan syar’i sbb:
وشرط في الذبح قصد أي قصد العين أو الجنس بالفعل
قوله ( قصد العين ) وإن أخطأ في ظنه أو الجنس وإن أخطأ في الإصابة ح ل
والمراد بقصد العين أو الجنس بالفعل أي قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح

Dan disyaratkan dalam penyembelihan adanya kesengajaan untuk benar-benar akan melakukan penyembelihan terhadap hewan yang dimaksud dan jenisnya// Jika ini sudah dilakukan berarti sudah cukup walaupun perkiraan dan jenisnya tidak akurat.
(Yang dimaksud ‘adanya kesengajaan’… adalah benar-benar ada kehendak kuat untuk melakukan sesuatu terhadap satu jenis binatang walaupun ia tidak sengaja untuk menyembelih.
[Syarh alMinhaj]
و شرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أي ذات حد تجرح كحديد أي كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السن والظفر وألحق بهما باقي العظام
قوله إلا عظما إلخ أفاد أنه يكتفي بغير ما ذكر ولو شعرا إذا كان لا على وجه الأحناف

Disyaratkan pada alat pemotongannya harus dalam keadaan tajam sehingga dapat melukai seperti pisau dan besi, bamboo, batu, peluru emas dan perak kecuali terbuat dari gigi dan kuku, hal ini sesuai dengan hadits riwayat Bukhari Muslim “Apapun yang dapat mengalirkan darah (binatang sembelihan) yang bukan terbuat dari gigi dan kuku serta disebutkan ketika disembelih nama Allah Ta’aala, maka makanlah”.. Disamakan dengan gigi dan kuku semua jenis tulang. (yang dimaksud ‘semua jenis tulang’) sudah cukup menjadi alat penyembelihan selain yang berupa ‘tulang dan gigi’ meskipun itu berbentuk rambut…[Hasyiyah al-jamal]

Selasa, 16 Juli 2019

FIQIH QURBAN (2+3)

FIKIH QURBAN (Bag. 2)

Referensi : Kitab Fathul Qarib

Hukum Kurban
(ويجزئ فيها الجذع من الضأن)، وهو ما له سَنَةٌ وطعن في الثانية، (والثني من المعز)، وهو ما له سنتان وطعن في الثالثة، (والثني من الإبل) ما له خمس سنين وطعن في السادسة، (والثني من البقر) ما له سنتان وطعن في الثالثة.

Adapun hewan yang bisa di Qurbankan adalah: 
1. Domba yang usianya satu tahun dan menginjak dua tahun 
2. Kambing yang berusia 2 tahun dan menginjak tiga tahun
3. Unta yang berumur 5 tahun menginjak 6 tahun.
 
4. Sapi yang berusia 2 tahun dan menginjak tiga tahun
(وتجزىء البدنة عن سبعة) اشتركوا في التضحية بها، (و) تجزىء (البقرة عن سبعة) كذلك، (و) تجزىء (الشاة عن) شخص (واحد) وهي أفضل من مشاركته في بعير. وأفضل أنواع الأضحية إبل ثم بقر ثم غنم.
unta bisa mencukupi untuk kurban dari tujuh orang yang berserikat begitu pula dengan kurban sapi. Sedangkan kambing cukup untuk kurban satu orang saja dan ini lebih afdhol daripada berkurban sapi dengn cara berserikat dengan 7 orang. Kurban terbaik adalah unta kemudian sapi lalu kambing.

Keterangan :

Mazhab Syafii : dianggap sah berkurban dengan kambing jenis DOMBA walau usianya enam bulan lebih (jalan menginjak usia ke tujuh) asalkan sudah tanggal giginya.
Untuk orang miskin yang ingin berqurban namun tidak mampu membeli kambing, Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori menganjurkan untuk mengikuti pendapat Ibn Abbas RA yang menganggap kesunatan berqurban itu cukup dengan mengalirkan darah meskipun darah ayam jago. (namun pendapat ini lemah)
Adapun Keterangan Syekh Ali Jaber dalam video yg viral ttg cukupnya berkurban satu kambing untuk satu keluarga maka pendapatnya mengambil pendapat imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahwaih.
Namun Imam al-Tirmidzi berkata:
وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ تُجْزِئُ الشَّاةُ إِلاَّ عَنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَهُوَ قَوْلُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ. (سنن الترمذى – ج 6 / ص 136)
Menurut sebagian ulama yang lain, 1 kambing tidak cukup kecuali untuk 1 orang. Ini adalah pendapat Abdullah bin Mubarak dan ulama lainnya [Sunan al-Tirmidzi].
Pendapat Ibnu Mubarak inilah yang sejalan dengan madzhab Syafi’iyyah dan diamalkan oleh kaum Muslimin Indonesia. Imam al-Nawawi berkata:

(فرع) تَجْزِئُ الشَّاةُ عَنْ وَاحِدٍ وَلَا تَجْزِئُ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ لَكِنْ إِذَا ضَحَّى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ تَأَدَّى الشِّعَارَ فِي حَقِّ جَمِيْعِهِمْ وَتَكُوْنُ التَّضْحِيَةُ فِي حَقِّهِمْ سُنَّةَ كِفَايَةٍ (المجموع ج 8 / ص 397)
Kambing mencukupi untuk 1 orang dan tidak mencukupi untuk 1 orang lebih. Namun, jika ada 1 orang menyembelih kambing untuk 1 keluarga, maka ia telah melakukan syiar untuk keluarganya dan qurban menjadi sunah kifayah bagi mereka [al-Majmu’]. 



FIKIH QURBAN (Bag. 2)

Referensi : Kitab Fathul Qarib

Syarat Hewan Kurban

(وأربع)، وفي بعض النسخ «وأربعة» (لا تجزئ في الضحايا): أحدها (العوراء البَيِّنُ) أي الظاهر (عورُها) وإن بقيت الحدقة في الأصح.
Ada 4 hal yang menyebabkan hewan tidak sah digunakan berqurban, yaitu:
1. Hewan yang buta salah satu matanya, yang tampak dengan jelas kebutaannya meskipun bagian hitam dari bola matanya masih tersisa.

(و) الثاني (العرجاء البين عرجها) ولو كان حصول العرج لها عند اضجاعها لتضحية بسبب اضطرابها.
2. Hewan yang pincang salah satu kakinya, walaupun pincangnya itu terjadi ketika akan disembelih, yaitu ketika dirobohkan dan ia bergerak dengan sangat kuat.
(و) الثالث (المريضة البين مرضها). ولا يضر يسير هذا الأمور.
3. Hewan yang sakit, Seperti sakit yang tampak jelas yang menyebabkan kurus dan dagingnya rusak. Jika sakit sedikit maka tidak apa apa.
(و) الرابع (العجفاء) وهي (التي ذهب مخها) أي ذهب دماغها (من الهزال) الحاصل لها.
4. Hewan yang sangat kurus hingga menyebabkan hilang sumsum tulangnya.
(ويجزئ الخصي) أي المقطوع الخصيتين (والمكسور القرن) إن لم يؤثر في اللحم، ويجزىء أيضا فاقدة القرون، وهي المسماة بالجلحاء.
Diperbolehkan alvers berkorban dengan binatang yang dikebiri, atau hewan yang pecah tanduknya asalkan tidak berpengaruh kepada kualitas dagingnya. Begitupula boleh berkurban dengan binatang yang terlahir tanpa tanduk yang lazim disebut sebagai jalja”.
(ولا تجزئ المقطوعة) كل (الأذن) ولا بعضها ولا المخلوقة بلا أذن،
Tidak diperbolehkan berkurban dengan Hewan yang terputus sebagian atau seluruh telinganya atau terlahir tanpa telinga.
(و) لا المقطوعة (الذنب) ولا بعضه.
dan juga Hewan yang terputus sebagian atau seluruh ekornya.

Keterangan :

Berkurban dengan kambing betina, bolehkah?

Boleh dan sah Berkurban dengan kambing betina dalam kitab majmu’ disebutkan :
يصح التضحية بالذكر وبالأنثى بالإجماع وفي الأفضل منهما خلاف (الصحيح) الذي نص عليه الشافعي في البويطي وبه قطع كثيرون أن الذكر أفضل من الأنثى وللشافعي نص آخر أن الأنثى أفضل

Dihukumi sah berkurban dengan hewan jantan ataupun betina dengan ijma (kesepakatan ulama) adapun mengenai afdholnya maka terjadi khilaf. Namun yang shohih yang dijelaskan oleh al-syafi'i dan dinukil oleh al-buwaithy dan menurut mayoritas ulama adalah hewan jantan lebih afdhal. Akan tetapi keterangan al-syafii di lain tempat mengatakan betina lebih afdhal.
Adapun Warna binatang yang Paling Afdhal dibuat kurban adalah yang berwarna putih, kemudian yang berwarna kekuning-kuningan, kemudian yang putih tetapi tidak sempurna putihnya, kemudian yang sebagian besar badannya berwarna putih, alvers kemudian yang sebagian besar berwarna hitam, kemudian berwarna hitam semuanya, kemudian yang berwarna kemerah-merahan semuanya/ coklat condong pada warna merah.

Selasa, 09 Juli 2019

FIQIH QURBAN (1)

FIQIH QURBAN (Bag. 1)

Referensi : Kitab Fathul Qarib
Hukum Kurban
الأُضحية
فصل} في أحكام الأُضحية. بضم الهمزة في الأشهر، وهي اسم لما يذبح من النعَم يومَ عيد النحر وأيام التشريق تقرُّبًا إلى الله تعالى         {.
Udhiyah (kurban) adalah sebutan untuk binatang ternak yang disembelih pada hari raya adha dan hari-hari tasyriq dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

والأضحية سنة مؤكدة) على الكفاية؛ فإذا أتى بها واحد من أهل بيت كفى عن جميعهم. ولا تجب الأضحية إلا بالنذر(.
Hukumnya Sunnah Mu'akkad (Sangat dianjurkan) Kifayah maksudnya jika salah seorang dalam satu keluarga telah melaksanakannya maka cukuplah hal itu (menggugurkan tuntutan utk melaksanakan kesunnahan) dari anggota keluarga lainnya. Hukumnya tidak wajib kecuali dengan Nadzar.

KETERANGAN :

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
"Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu 
ingin berkorban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya." [HR Muslim].
Arti sabda Nabi saw, " …ingin berkorban…" adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib. Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka, lantaran keduanya takut jika kurban itu dianggap sebagai kewajiban.
Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah, Al Laits, Al Auza’i, dan sebagian pengikut Imam Malik mereka menyebutkan bahwa hukum kurban adalah wajib bagi yang mampu berdasar hadits berikut ini,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه ُ
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Al Hakim menshahihkannya. Akan tetapi ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini mauquf, yaitu hanyalah perkataan sahabat.]
Beliau berargumen, jika orang yang enggan berkurban tidak boleh mendekati tempat shalat, maka itu menunjukkan ada perkara wajib yang ditinggalkan. Wallahu A’lam
Adapun standar “mampu” versi Imam Abu Hanifah adalah apabila seseorang memiliki aset / harta sebanyak 200 dirham / 20 dinar selain rumah, kebutuhan pokok dan hutangnya. (@Dirham : Rp. 62.000,- x 200 = Rp.12.400.000,-)
Wallahu A'lam

Kamis, 22 September 2016

NABI MUHAMMAD S.A.W INSAN FITRAH


Nabi Muhammad s.a.w adalah seorang manusia fitrah yang sejak awal kejadian baginda s.a.w sentiasa bergerak di atas landasan fitrah insan yang suci murni. Fitrah yang suci bersih lagi murni akan mencetuskan perjuangan dalam jiwa apabila insan itu dibaluti oleh suasana yang penuh dengan kemunkaran, kezaliman, penyembahan berhala dan benda-benda alam, perebutan kuasa, kegilaan kepada harta dan berbagai-bagai adat serta kebudayaan yang menyimpang jauh daripada sifat fitrah yang asli. Perjuangan dalam jiwa Nabi Muhammad s.a.w sampai ke kemuncaknya apabila baginda s.a.w mencapai usia 36 tahun. Kejahilan, kesyirikan, kekafiran, kemunkaran dan kezaliman yang berleluasa di dalam masyarakat menjadi beban yang sangat berat menghimpit jiwa fitrah baginda s.a.w. Tekanan tersebut menjadi lebih kuat lantaran segala kerosakan itu terjadi kepada orang-orang yang hampir dengan baginda s.a.w, kaum keluarga dan masyarakat yang sama keturunan dengan baginda s.a.w, sedangkan jalan untuk menyelamatkan mereka tidak terbuka. Jiwa fitrah yang sangat mengasihi sesama manusia sangat menginginkan keselamatan dan kesejahteraan kepada sekalian manusia. Jiwa yang seperti inilah yang selalu menderita apabila melihat kerosakan yang terjadi kepada orang lain.
 Fitrah yang suci murni memiliki bakat yang istimewa iaitu kebolehan untuk mengenal dan mengerti tentang sesuatu yang benar dan juga memiliki keupayaan untuk bergerak kepada yang benar itu. Apabila mencapai usia  36 tahun Nabi Muhammad s.a.w diheret oleh fitrah suci baginda s.a.w ke Gua Hiraa, kira-kira 10 km ke utara Makkah. Gua tersebut terletak di atas Gunung Hiraa, kira-kira 20 meter dari puncak gunung. Seorang lelaki yang kuat memerlukan masa kira-kira 40 minit untuk mendaki dari bawah hingga ke aras Gua Hiraa. Laluan masuk ke dalam gua tersebut sangat sempit, di celah dua buah ketulan batu besar yang hampir-hampir bertaut. Seseorang yang ingin melaluinya perlu menyusup dengan bersusah payah. Setelah berjaya melepasi laluan yang sempit itu seseorang itu akan masuk ke dalam satu ruang kosong yang sempit juga. Ruangnya tidak memadai untuk seorang manusia tidur dengan selesa di dalamnya.
 Gua tersebut disembunyikan oleh batu-batu besar, hampir-hampir tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalamnya. Batu-batu di sekitar gua itu berwarna hitam kemerah-merahan yang boleh menimbulkan rasa gerun dalam hati sesiapa yang menyaksikan pemandangan di sana. Bahagian yang terdapat Gua Hiraa merupakan bahagian yang paling menggerunkan di antara semua bahagian Gunung Hiraa.
 Tarikan Fitrah telah membawa Nabi Muhammad s.a.w ke tempat yang tidak ada manusia mahu pergi, apa lagi tinggal beberapa hari di sana siang dan malam. Bulan Ramadan merupakan tempoh yang paling baginda s.a.w gemar berkhalwat di Gua Hiraa. Baginda s.a.w berulang-alik ke Gua Hiraa sehinggalah wahyu yang pertama turun ketika usia baginda s.a.w menjangkau 40 tahun.
 Suasana Gua Hiraa menceritakan bahawa hanya insan yang berjiwa besar dan sangat berani serta bersemangat waja sahaja yang sanggup tinggal di sana seorang diri, siang dan malam dan berhari-hari lamanya. Hanya tawakal dan keyakinan yang teguh membuat seseorang mampu bertahan di dalam kegelapan Gua Hiraa, tidak dapat melihat binatang bisa seperti ular dan jengking yang mungkin muncul pada bila-bila masa sahaja. Insan yang boleh tinggal di sana pastilah di dalam jiwanya tidak ada sebesar zarah pun rasa takut kepada makhluk, kecintaan kepada dunia, harta benda, pangkat dan kemuliaan. Hanya jiwa Islam (berserah diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t) yang sempurna dapat tinggal sendirian di dalam Gua Hiraa. Tujuan, harapan dan pergantungan hanyalah Allah s.w.t, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
 Semakin mendekati usia 40 tahun semakin kerap Nabi Muhammad s.a.w mengunjungi Gua Hiraa. Apabila berada di luar gua, terutamanya pada waktu malam, baginda s.a.w merenung bangunan alam maya, melihat kerapian susunannya dan keindahan gubahannya. Apabila berada di dalam gua baginda s.a.w merasakan ketenangan, kedamaian dan kelazatan. Gua Hiraa yang gelap gelita dan sunyi sepi memisahkan baginda s.a.w daripada seluruh alam dan sekalian makhluk. Kegelapan membungkus jasad hinggakan pengaruh jasad tidak lagi menghijab hati nurani. Apabila terpisah daripada segala yang maujud, fitrah suci akan merdeka dari segala sesuatu kecuali Allah s.w.t. Cahaya fitrah yang suci lagi murni memancar dengan terang benderang menyuluh ke seluruh pelusuk alam maya menyaksikan dengan jelas apa yang tidak mampu dipandang dengan mata. Tiap sesuatu menjadi terang benderang di dalam sinaran fitrah suci Nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada satu zarah pun yang terlindung daripada pandangan mata hati baginda s.a.w. Semuanya jelas dan nyata namun, masih ada satu yang tidak dapat disingkap oleh fitrah, walaupun seseorang itu manusia suci.
 Fitrah mampu menyingkap rahsia kemanusiaan sehingga manusia boleh membentuk tatasusila kehidupan yang sesuai untuk dijalani oleh semua umat manusia. Fitrah boleh membentuk sistem moral yang baik. Fitrah dapat menguruskan pentadbiran negara dan perdagangan. Fitrah dapat meneroka alam maya dan benda-benda alam. Tetapi apabila berhadapan dengan Pencipta manusia dan alam sekaliannya dan juga Pencipta fitrah itu sendiri maka fitrah hanya mampu berkata, “Allah!” dan masuk kepada penyerahan tanpa takwil.
 Apa yang dilalui oleh Nabi Muhammad s.a.w di Gua Hiraa pernah dialami juga oleh Nabi Ibrahim a.s, sebagaimana diceritakan oleh al-Quran:
http://alhakiki.tripod.com/002a.JPG
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Nabi Ibrahim kebesaran dan kekuasaan (Kami) di langit dan di bumi, dan supaya menjadilah ia dari orang-orang yang percaya dengan sepenuh-penuh yakin. Maka ketika ia berada pada waktu malam yang gelap, ia melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: “Inikah  Tuhanku?” Kemudian apabila  bintang  itu terbenam,  ia berkata pula: “Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang.” Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), ia berkata: “Inikah Tuhanku?” Maka setelah bulan itu terbenam berkatalah ia: “Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat”. Kemudian apabila ia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah ia: “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar!” Setelah matahari terbenam, ia berkata pula: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya). Sesungguhnya aku hadapkan muka dan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, sedang aku tetap di atas dasar tauhid dan bukanlah aku dari orang-orang yang menyengutukan Allah (dengan sesuatu yang lain)”. ( Ayat 75 – 79 : Surah al-An’aam )
 Tafakur membawa Nabi Ibrahim a.s berhujah dengan fahaman-fahaman yang menjadikan benda-benda alam sebagai tuhan-tuhan. Tafakur dan hujah berakhir pada tahap: “Aku hadapkan wajahku kepada yang menciptakan semua langit dan bumi. Aku hadapkan dengan fitrah yang hanif. Aku tidak mempersekutukan-Nya dengan apa-apa pun”. Tahap terakhir ini Allah s.w.t bukakan kepada para hamba-Nya yang Dia kehendaki. Hadapkan fitrah suci kepada-Nya dengan penuh keikhlasan tanpa mengadakan sebarang takwil mengenai-Nya dan tidak mengadakan sekutu bagi-Nya. Dia sendiri menentukan bila dan bagaimana Dia berkehendak mengadakan pembukaan kepada hamba-Nya.
Pada 17 Ramadan, tahun 41 daripada umur Nabi Muhammad s.a.w, datanglah malaikat Jibrail a.s membawa wahyu yang pertama daripada Tuhan Azza wa Jalla, sebagai menyempurnakan lagi fitrah Nabi Muhammad s.a.w, menaikkan fitrah insan kepada darjat fitrah Muslim, menjawab segala yang terkilan, menghuraikan segala yang kusut dan membukakan segala yang tertutup. Sempurnalah kesempurnaan  Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim dipersiapkan untuk menanggung mahkota seluruh alam, menjadi penutup sekalian nabi-nabi, menjadi penyelamat umat manusia dan dunia seluruhnya, menjadi rahmat kepada sekalian alam dan menjadi kekasih Allah!

Selasa, 14 Juni 2016

Keutamaan Shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Keutamaan shalawat kepada Sayyidul Basyar SAW


Sesungguhnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus nabi-Nya Muhammad dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah.

Allah SWT telah menjadikannya rahmat bagi seluruh alam dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa serta menjadikannya orang yang dapat memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Seorang hamba harus mentaatinya, menghormati dan melaksanakan hak-haknya. Dan di antara hak-haknya adalah Allah mengkhususkan baginya sholawat dan memerintahkan kita untuk itu di dalam kitab-Nya yang agung (Al-Qur’an) dan Sunnah nabi-Nya yang mulia (Hadits).

Orang yang yang bersholawat untuknya akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan itu. Dan karena masalah ini memiliki urgensi yang sangat besar dan pahala yang besar pula, maka kamimerasa perlu untuk mengeluarkan tulisan-tulisan sederhana ini, yang di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sholawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia ini.

Ya Allah! Berilah Sholawat dan Salam atas nabi dan kekasih-Mu Muhammad selama siang dan malam yang silih berganti.


Pengertian Sholawat dan Salam atas nabishallallahu ‘alaihi wasallam:


Allah subhaanhu wa ta’aala berfirman:

} إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(Q.S. Al-Ahzab: 56)

Ibnu Katsir-Rahimahullah- berkata: “Maksud ayat ini adalah bahwa Allah subhaanhu wa ta’aala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bersholawat untuknya, lalu Allah subhaanhu wa ta’aala memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bersholawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”

Ibnul Qoyyim -Rahimahullah- berkata dalam buku “Jalaul Afham”“Artinya bahwa jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk rasul-Nya, maka hendaklah kalian juga bersholawat dan salam untuknya karena kalian telah mendapatkan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”

Banyak pendapat tentang pengertian Sholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

, dan yang benar adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bersholawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat” -Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shohihnya dengan komentar yang kuat- Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Salam: Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan sholawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna. Demikian yang dikatakan oleh Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.


Hukum Sholawat Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Menurut madzhab Hanbaliy, sholawat dalamtasyahhud akhir itu adalah termasuk di antara rukun-rukun sholat.

Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata: “Allah subhaanhu wa ta’aala telah mewajibkan makhluk-Nya untuk bersholawat dan salam untuk nabi-Nya, dan tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja. Jadi yang wajib adalah hendaklah seseorang memperbanyak sholawat dan salam untuk beliau dan tidak melalaikannya.”


Saat-Saat Yang Disunnahkan dan Dianjurkan Membaca Sholawat dan Salam Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:


1. Sebelum berdoa:

Fadhalah bin ‘Abid berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya dan kepada yang lainnya:

((إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيهِ ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ))

“Bila salah seorang di antara kalian sholat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bersholawat untuk nabi, kemudian berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Hakim]

Dalam salah satu hadits disebutkan:

((الدُّعَاءُ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلِّيَ الدَّاعِي عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ))

“Doa itu terhalangi, hingga orang yang berdoa itu bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” [H.R. Thabarani]

Ibnu ‘Atha berkata: “Doa itu memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab dan waktu-waktu. Bila bertepatan dengan rukun-rukunnya maka doa itu menjadi kuat, bila sesuai dengan sayap-sayapnya maka ia akan terbang ke langit, bila sesuai dengan waktu-waktunya maka ia akan beruntung dan bila bertepatan dengan sebab-sebabnya maka ia akan berhasil.”

Adapun rukun-rukunnya adalah menghadirkan hati, perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati kepada Allah, sayap-sayapnya adalah jujur, waktu-waktunya adalah di saat sahur dan sebab-sebabnya adalah sholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.


2. Ketika menyebut, mendengar dan menulis nama beliau:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

((رَغَمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

“Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]


3. Memperbanyak sholawat untuknya pada hari Jum’at:

Dari ‘Aus bin ‘Aus berkata: “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((إنَّ أفْضَلَ أيَّامِكُمْ يَوُمُ الجُمْعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ ...))

“Sesungguhnya di antara hari-hari yang paling afdhal adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah sholawat untukku pada hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku......” [R. Abu Daud, Ahmad dan Hakim]


4. Sholawat untuk nabi ketika menulis surat dan apa yang ditulis setelah Basmalah:

Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Inilah saat-saat yang tepat untuk bersholawat yang telah banyak dilakukan oleh umat ini tanpa ada yang menentang dan mengingkarinya. Dan tidak pula pada periode-periode awal. Lalu terjadi penambahan pada masa pemerintahan Bani Hasyim -Daulah ‘Abbasiah- lalu diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.”

Dan di antara mereka ada pula yang mengakhiri bukunya dengan sholawat.


5. Ketika masuk dan keluar mesjid:

Dari Fatimah -Radhiyallahu ‘Anha- berkata:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila anda masuk mesjid, maka ucapkanlah:

((بِسْمِ اللهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لَنَا وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ))

”Dengan nama Allah, salam untuk Rasulullah, ya Allah sholawatlah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah kami dan mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu.”

“Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi (pada penggalan akhir) diganti dengan:

((وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ فَضْلِكَ))

“Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]


Cara Sholawat dan Salam Untuk Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam

Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman:

} إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(Q.S. Al-Ahzab: 56)

Jadi yang utama adalah dengan menggandengkan sholawat dan salam bersama-sama, dengan harapan agar doanya dapat dikabulkan oleh Allah shallallahu ‘alaihi wasallamInilah bentuk sholawat dan salam untuk beliaushallallahu ‘alaihi wasallam Dari Abi Muhammad bin ‘Ajrah -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat untukmu?” Maka beliau bersabda: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”[Muttafqun ‘Alaihi]

Dan dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bersholawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Kedua hadits ini menunjukkan bentuk sholawat yang sempurna untuk Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.


Keutamaan Sholawat dan Salam Untuk Nabishallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((إذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِي الوَسِيلَةَ فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأرْجُو أنْ أكُونَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ))

“Jika kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan dan bersholawatlah untukku karena barangsiapa yang bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, kemudianmintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yang memohon untukku wasilah maka ia berhak mendapatkan syafa’at.” [H.R. Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي))

“Barangsiapa yang bersholawat untukku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))

“Barangsiapa yang bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]

Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Saya telah mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia sedang sujud dan memperpanjang sujudnya. Beliau bersabda:“Saya telah didatangi Jibril, ia berkata: “Barangsiapa yang bersholawat untukmu, maka saya akan bersholawat untuknya dan barangsiapa yang memberi salam untukmu maka saya akan memberi salam untuknya, maka sayapun bersujud karena bersyukur kepada Allah.” [H.R. Hakim, Ahmad dan Jahadhmiy]

Ya’qub bin Zaid bin Tholhah At-Taimiy berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah datang kepadaku (malaikat) dari Tuhanku dan berkata: “Tidaklah seorang hamba yang bersholawat untukmu sekali kecuali Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” Maka seseorang menuju kepadanya dan bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah saya jadikan seperdua doaku untukmu?” Beliau menjawab: “Jika anda mau”. Lalu bertanya: “Apakah saya jadikan sepertiga doaku?” Beliau bersabda: “Jika anda mau” Ia bertanya: “Kalau saya jadikan seluruh doaku?” Beliau bersabda: “Jika demikian maka cukuplah Allah sebagai motivasi dunia dan akhiratmu.”[H.R. Al-Jahdhami, Al-Albani berkata: “Hadits Mursal dengan Isnad yang Shohih]

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ))

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i dan Hakim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, diampuni sepuluh dosa-dosanya dan diangkat baginya sepuluh derajat.”[H.R. Ahmad dan Bukhari, Nasa’i dan Hakim dan ditashih oleh Al-Albani]

Hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud: “Manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan berkata: “Hasan ghorib dan H.R. Ibnu Hibban]

Dari Jabir bin Abdullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengarkan adzan membaca:

((اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ))

“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan fadhilah dan bangkitkanlah ia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya.”

Maka ia berhak mendapatkan syafa’at pada hari kiamat.” [H.R. Bukhari dalam shohihnya]


Celaan Bagi Yang Tidak Bersholawat Untuk Nabi.


Dari Abu Huraerah -Radhiyallahu ‘Anhu-­berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Celakalah seseorang yang jika namaku disebut di sisinya ia tidak bersholawat untukku, celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadhan kemudian keluar sebelum ia diampuni, celakalah seseorang, kedua orang tuanya telah tua tetapi keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” Abdurrahman salah seorang perawi hadits dan Abdurrahman bin Ishak berkata: “Saya kira ia berkata: “Atau salah seorang di antara keduanya” [H.R. Tirmidzi dan Bazzar]

Dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((البَخِيلُ كُلَّ البُخْلِ الَّذِي ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]

Dari Ibnu Abbas, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ خُطِئَ طَرِيقَ الجَنَّةَ))

“Barangsiapa yang lupa mengucapkan sholawat untukku maka ia telah menyalahi jalan surga.”[Telah ditashih oleh Al-Albani]

Dari Abu Hurairah, Abul Qosim bersabda:“Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.” [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]

Diriwayatkan oleh Abu Isa Tirmidzi dari sebagian ulama berkata: “Jika seseorang bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekali dalam suatu majelis, maka itu sudah memadai dalam majelis tersebut.”


Faedah dan Buah Sholawat Untuk Nabishallallahu ‘alaihi wasallam:


Ibnul Qoyyim menyebutkan 39 manfaat sholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah sebagai berikut:

1.Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala

2.Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca sholawat satu kali.

3.Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.

4.Diangkat baginya sepuluh derajat.

5.Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan sholawat, dan doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.

6.Penyebab mendapatkan syafa’at shallallahu ‘alaihi wasallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.

7.Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.

8.Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.

9.Mendekatkan hamba dengan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat.

10.Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bersholawat untuk orang yang bersholawat.

11.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sholawat dan salam orang yang bersholawat untuknya.

12.Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pada hari kiamat.

13.Menghilangkan kefakiran.

14.Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bersholawat untuk nabishallallahu ‘alaihi wasallam ketika namanya disebut.

15.Orang yang bersholawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati dan memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.

16.Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan kemaslahatannya, karena orang yang bersholawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa ini terkabul dan balasannya sama dengan permohonannya.

17.Nama orang yang bersholawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya sholawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang menyampaikankepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dengan kebaikan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

18.Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu sholawatnya untukku datang dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]

19.Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.

20.Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia bersholawat dan menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.


Shalawat dan salam untuk nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, sampai akhir zaman. Amin