Senin, 23 September 2019

KETIKA REZEKIMU HABIS, MAKA AJALPUN TIBA

KETIKA REZEKIMU HABIS, MAKA AJALPUN TIBA

Jangan perdulikan jasadmu yang akan busuk & hancur!! ...
 Kaum muslimin akan melaksanakan kewajiban mereka:
1. Memandikan mu
2. Mengkafani mu
3. Menyolati mu
4. MENGUBURKAN MU
Yakinlah!!! Bahwa:
Dunia tidak sedih karena KEMATIAN mu
~Alam semesta tidak berduka atas kepergian mu.!
~Segala sesuatu akan berjalan seperti biasa dan tidak berubah dengan perpisahan mu.!!
~Perekonomian akan terus berputar.!
~Pekerjaanmu, akan digantikan orang lain!
Hartamu akan pindah tangan secara halal kepada ahli waris.!
Sementara ​Anda yang akan di HISAB atas segala sesuatu hingga perkara yang besar sampai dengan hal yang paling kecil.!!
Yang pertama lepas dari mu adalah nama mu..
Saat Anda meninggal dunia: Orang2 bertanya : ​​Dimana MAYATnya ?​​ Mereka tidak lagi memanggil mu dengan namamu.. Namamu tinggal kenangan belaka.
Ketika mereka akan mensholati, mereka bilang : ​​Bawa sini JENAZAHnya.!!!​​ Mereka tidak lagi menyebutkan namamu.. Betapa cepat namamu hilang berlalu....​
Ketika mereka akan menguburkan mu, mereka berkata: ​Dekatkan MAYITnya.!!​ tanpa menyebutkan namamu..
Karena itu...
Janganlah tertipu oleh kehormatan, status sosial dan kelebihan kelompokmu..!!
Jangan terperdaya oleh kedudukan, jabatan dan nasab keturunanmu...!!
​Alangkah sepelenya dunia ini... dan betapa besar apa yang akan kita hadapi...​
Kesedihan orang atas kepergian mu ada 3 :
1.Orang yang mengenal mu sepintas akan mengatakan: ​​Kasihan...!!​​
2.Teman dan sahabatmu akan bersedih beberapa saat atau beberapa hari, kemudian mereka kembali pada rutinitas dan canda tawa mereka..
3.Kesedihan mendalam di rumah...Keluargamu akan bersedih sepekan... satu-dua bulan atau hingga satu tahun... Kemudian mereka akan meletakkanmu dalam album kenangan...
Demikianlah...
Kisah mu di antara manusia telah berakhir...
Anda hanya tinggal ​ALBUM KENANGAN​.
Kisah mu yang sebenarnya baru dimulai... bersama sesuatu yang nyata, yaitu: ​Alam Akhirat​
Telah lepas darimu :
1.Ketampanan/Kecantikan
2.Harta, Rumah
3.Kedudukan/Jabatan
4.Anak
5.Istri/Suami
​Kehidupan mu yang sesungguhnya baru dimulai​. Pertanyaannya sekarang adalah :
​Apa yang telah Anda siapkan untuk kubur dan akhirat mu.????? Ini adalah KENYATAAN yang akan terjadi dan perlu direnungkan.!!​
​Check ibadahmu... yang wajib dan yang sunnah​..
​Check Amal sholeh dan Sedekah​ mu..
​Check perilaku dan tingkah laku mu..
​Semoga kita semua menyiapkan bekal utk kehidupan yg kekal.. Dan Selamat di Akhirat..
Jika Anda membantu mengingatkan orang lain dengan menyebar postingan ini... ​In Sya Allah...​ Anda akan dapatkan buah dari peringatan Anda ini dalam timbangan amal kebaikan pada hari Kiamat.
Allah berfirman :
(وذكّر فإن الذكرى تنفعُ المؤمنين)
"Dan berilah peringatan! karena peringatan itu bermanfaat bagi orang2 beriman"
Kenapa Mayit memilih: ​"Sedekah"​ jika kembali ke dunia? Sebagaimana firman Allah:
👈 رب لولا أخرتني إلى أجل قريب: ‼فأصدق
​"Ya Allah! jika Engkau tunda ajalku sebentar saja, niscaya aku akan bersedekah"​
Mereka tidak mengatakan :
*Niscaya Aku akan Haji/Umroh..
*Niscaya Aku akan Shalat..
*Niscaya Aku akan Puasa..
Para Ulama menjelaskan : "Mayit hanya mengatakan Sedekah, karena dia melihat dampak sedekah yang sangat besar setelah kematian"
Maka ​perbanyaklah sedekah​
untuk saat ini bersedekahlah dengan mengirim/menyebarkan postingan ini pada teman/saudara ​dengan niat karena Allah, Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin.

Minggu, 08 September 2019

Sejarah Puasa 'Asyuro

Puji Syukur Alhamdulillah, kita saat berada di bulan mulia muharram yang mana sebagian masyarakat menyebutnya bulan Syuro. Nama Asyura sendiri adalah nama hari kesepuluh dari bulan muharram namun karena keistimewaannya masyarakat menyebutnya sebagai nama bulan.

Pada sebuah hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari, ia berkata :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Nabi SAW ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR Muslim]

Bulan muharram adalah bulan mulia, 10 hari pertamanya juga demikian mulia terlebih pada tanggal 10 nya yang dikenal dengan Asyura, bagaimana tidak, puasa sehari setara setahun dalam melebur dosa seseorang sebagaimana hadits di atas. Dosa yang dimaksud di sini diterangkan oleh Imam Nawawi, Beliau  berkata :

قَالُوا الْمُرَادُ بِالذُّنُوبِ الصَّغَائِرُ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ الصَّغَائِرُ يُرْجَى تَخْفِيفُ الْكَبَائِرِ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُفِعَتْ الدَّرَجَاتُ
Para ulama berpendapat bahwa dosa yang dimaksud di sini adalah dosa kecil, Jika orangnya tidak memiliki dosa kecil maka diharapkan bisa meringankan dosa besar dan jika orang tersebut tidak memiliki dosa besar maka pahala puasa asyuranya dapat mengangkat derajatnya. [Tuhfatul Ahwadzi]

Puasa Asyura bukanlah hal baru sebab orang yahudi jauh sebelumnya sudah melakukan puasa asyura tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: “Rasulullah SAW mendatangi kota Madinah, lalu beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?” mereka menjawab :

هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ 
“Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.”
Maka Rasulullah SAW bersabda,
فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ 
 “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa dari pada kalian.”
Ibnu Abbas RA kemudian berkata :
فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan berpuasa pada hari itu. [HR Bukhari Muslim]

Perintah puasa ini sampai kepada para sahabat saat itu dan ada beberapa orang diantaranya yang berkata :
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
“Wahai Rasulullah, hari asyura iatu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.”
Lantas Rasul SAW mengatakan,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Apabila tiba tahun depan –insya Allah– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan (tasu’a).”
Namun perawi hadits ini, Ibnu Abbas menceritakan :
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai (Tasu’a) tahun depan, Nabi SAW wafat.” [HR Muslim]

Dipahami dari hadits shahih tersebut bahwa tujuan puasa pada hari ke sembilan (tasu’a) adalah untuk membedai puasanya orang yahudi. Jika demikian maka puasa asyura juga bisa dilaksanakan dengan hari setelahnya (Tanggal sebelas). Rasul SAW :
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi dalam berpuasa asyura. (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. [HR Ahmad]

Maka dari itu lebih baiknya berpuasa selama tiga hari, Sayyed Bakri mengatakan :
أن الشافعي نص في الأم والإملاء على استحباب صوم الثلاثة
Imam syafi’i dalam kitab Al-Umm dan Al-Imla’ menyatakan bahwa sunnah berpuasa tiga hari yakni Tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. [I’anatut Thalibin].

Hikmah lain dari puasa tasu’a adalah bertujuan ihtiyath (berhati-hati) atau anstipasi kesalahan dalam hitungan awal bulan sehingga boleh jadi tanggal 9 menurut kita ternyata sebenarnya adalah tanggal 10 [I’anatut Thalibin]. Dan ini kemungkinan terjadi pada tahun ini karena rukyat gagal melihat hilal awal muharram sehingga berlaku istikmal (menyempurnakan 30 hari pada bulan dzul hijjah) sementara banyak orang yang tidak mengetahui kabar ini.

Secara dzahir, dipahami dari anjuran berpuasa pada hari sebelum atau sesudah asyura adalah hukum makruh jika berpuasa hanya pada asyura’ saja dikarenakan menyamai cara berpuasa orang yahudi. Namun hal ini tidaklah demikian karena Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm mengatakan : La Ba’s Bi ifradih (tidak apa-apa berpuasa hanya pada asyura saja). [I’anatut Thalibin].

Meskipun Rasul SAW memerintahkan dengan kata “Amara” hal ini tidak berarti bahwa puasa ayura adalah wajib. Mengapa? Karena Sayyidah Asiyah berkata :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliyyah dan Nabi SAW-pun berpuasa Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan orang-orang di sana untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau meninggalkan puasa hari asyura (dan beliau bersabda): “Barang siapa berkehendak maka silahkan berpuasa, dan Barang siapa berkehendak maka silahkan tidak puasa” [HR Bukhari]

Lebih jelas lagi, terdapat riwayat dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Al-Asy`ats bin Qais datang menjumpai Abdullah, ketika ia sedang makan siang, ia (Abdullah) berkata: Wahai Aba Muhammad, mari kita makan siang. Ia (Asy`ats) berkata: Bukankah hari ini adalah hari Asyura'? Ia (Abdullah) bertanya: Apakah engkau mengetahui apa hari Asyura' itu? Ia (Asy`ats) menjawab: Hari apa itu?. Kemudian ia (Abdullah) menjelaskan:

إِنَّمَا هُوَ يَوْمٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَلَمَّا نَزَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ تُرِكَ
Hari itu adalah hari yang dahulu Rasulullah saw. selalu berpuasa sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan dan ketika puasa bulan Ramadan diwajibkan, puasa hari Asyura' itu ditinggalkan. [HR Muslim] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk melakukan sunnah-sunnah-Nya.

Salam Satu Hadits,
Fathul Bari Badruddin